Dalam pembuatan penelitian, masalah penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam proses penelitian. Tanpa adanya masalah yang jelas, seorang peneliti akan kehilangan arah yang jelas, sehingga proses pengumpulan data dan penentuan metode menjadi tidak terarah. Penelitian pada dasarnya dilakukan peneliti untuk menemukan solusi atau rekomendasi penyelesaian suatu masalah. Masalah yang dirumuskan secara baik tidak hanya membantu membatasi ruang lingkup kajian agar tidak melebar, tetapi juga menjadi dasar dalam menyusun hipotesis, memilih teori yang relevan, serta menentukan tujuan akhir penelitian. Dalam Proses Skripsi, Judul penelitian sebenarnya akan mudah untuk didapatkan apabila telah menemukan masalah. Selain itu dalam proses menentukan masalah, Novelty Penelitian juga harus menjadi perhatian bagi para peneliti.

Novelty penelitian adalah unsur kebaruan atau temuan orisinal dari sebuah studi yang membedakannya dari penelitian-penelitian terdahulu. Novelty (kebaruan) penelitian sangat penting karena menjadi tolok ukur orisinalitas dan kontribusi nyata suatu karya ilmiah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta pemecahan masalah praktis. Secara logika, apabila Topik dan masalah penelitian sudah diteliti berulang kali dan ditemukan solusinya yang bahkan sudah konsisten maka hanya membuang waktu dan sumber daya penelitian. Pada Proses Skripsi, Masalah dan Novelty (kebaruan) Penelitian menjadi salah satu yang sering diminta untuk dihadirkan dan dijelaskan. Hal ini cukup sulit untuk dilakukan bagi sebagian mahasiswa yang sedang menempuh proses skripsi.

Berikut adalah beberapa cara Mendapatkan Masalah dan Novelty Penelitian dalam Proses Pembuatan Skripsi Bagi Mahasiswa Akuntansi dan Manajemen (Ditulis Bulan September 2026)

Mengamati dan Merumuskan Fenomena Tidak Biasa atau Kesenjangan

Peneliti dapat menemukan masalah dan Novelty  penelitian dengan cara mengamati fenomena yang tidak biasa terjadi di suatu lingkungan atau aktivitas dan sebagainya. Fenomena yang dimaksud adalah suatu kejadian atau peristiwa atau kondisi yang tidak seperti biasanya atau seharusnya, misalkan saat Covid19 banyak sektor perusahaan mengalami penurunan profitabilitas yang tinggi akibat kondisi “Lockdown”. Namun sektor perbankan dan kesehatan justru dapat bertahan dan bahkan mengalami peningkatan yang cukup signfikan. Faktor – faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut menarik untuk diteliti dan dirumuskan menjadi masalah penelitian Contoh lainnya, misalkan perekonomian sedang menurun namun penjualan tiket konser K-pop seringkali terjual habis dalam hitungan menit.

Dalam proses perumusan fenomena menjadi masalah penelitian, peneliti harus menghindari mengulang penelitian yang telah memiliki hasil yang sudah konsisten dan berulang kali telah diteliti oleh peneliti lainnya. Jadi selama fenomena tersebut masih ada, belum memiliki hasil yang konsisten, masih ada hal baru yang bisa diteliti atau ada urgensi untuk pembuktian kembali maka Fenomena tersebut dapat dirumuskan menjadi masalah penelitian anda. Bila tidak maka sebaiknya mencari fenomena lainnya sehingga waktu dan sumberdaya tidak terbuang.

Membaca Literatur Terdahulu dan Melakukan Observasi Lapangan

Membaca literatur secara mendalam berfungsi sebagai fondasi utama bagi peneliti untuk memetakan perkembangan terkini suatu ilmu (state of the art) sekaligus agar peneliti tidak melakukan pengulangan riset yang sia-sia (plagiarisme tidak disengaja). peneliti dapat mendeteksi celah kosong (research gap), baik berupa pertentangan hasil antar-peneliti, keterbatasan metodologi, maupun kelemahan teori yang ada dalam menjelaskan fenomena baru. Kesenjangan yang ditemukan dalam literatur inilah yang kemudian memberikan legitimasi ilmiah dan landasan kuat untuk merumuskan kebaruan (novelty). Setelah membaca literatur maka harus dilakukan observasi lapangan dalam proses penelitian.

Observasi lapangan memegang peranan krusial dan penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan teori akademik dengan realitas empiris di dunia nyata. Observasi lapangan bertindak sebagai alat validasi untuk memastikan apakah masalah yang ditemukan dalam literatur benar-benar terjadi di lingkungan nyata, sekaligus membantu peneliti menemukan variabel-variabel baru yang tidak terduga.

Pendekatan Berbasis "Replikasi dengan Penambahan".

Ketika setelah membaca literatur dan observasi lapangan, namun masih mengalami kesulitan menemukan ide atau topik penelitian yang benar-benar baru, peneliti tidak perlu memaksakan diri dan dapat mencoba pendekatan berbasis “Replikasi dengan Penambahan”. Di dunia akademik, replikasi bukan berarti menjiplak atau Menduplikasi penelitian tanpa perubahan sama sekali. "Replikasi dengan Penambahan" berkontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam metode ilmiah, replikasi murni (mengulang hal yang persis sama) berfungsi untuk menguji keandalan (reliability) temuan awal. Namun, replikasi dengan penambahan membawa penelitian satu langkah lebih maju. Ada beberapa cara dan strategi melakukan “replikasi dengan penambahan” yang benar diantaranya perluasan Populasi atau Sampel (Sampling Extension), menambahkan Variabel baru (Variable Extension), mengubah Konteks atau Industri, memperbarui Garis Waktu dan lainnya. Perihal hal ini akan dibahas dalam artikel lainnya.

Melakukan Refutasi Teori dan Melakukan Eksperimen.

Cara lain yang juga dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan masalah dan novelty penelitian adalah dengan melakukan Refutasi Teori dan melakukan Eksperimen. Refutasi teori adalah proses membuktikan bahwa suatu teori atau hipotesis salah atau memiliki keterbatasan. Dalam dunia akademik, novelty terbaik sering kali tidak datang dari sekadar mengisi celah kecil yang belum diteliti orang lain (gap-filling), melainkan dari keberanian untuk mempertanyakan, menguji batasan, atau menyanggah (refutasi) teori dan asumsi yang sudah mapan. Untuk melakukan Refutasi Teori dan melakukan eksperimen maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu menantang cakupan teori, menemukan Anomali Hasil, membenturkan dua teori yang berlawanan, dan lainnya. Refutasi tidak asal membantah, melainkan harus berbasis data, logika, dan bukti empiris. Refutasi Teori adalah proses akademis yang ketat, bukan sekadar perbedaan pendapat atau bantahan tanpa dasar. Peneliti harus bisa menunjukkan cacat penalaran (logical fallacy) atau inkonsistensi internal dalam teori yang sudah ada. Logika juga digunakan untuk membangun hipotesis baru yang lebih masuk akal dalam menjelaskan suatu fenomena.

Demikian beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menemukan masalah dan novelty penelitian Semoga informasi ini bermanfaat terutama bagi mahasiswa yang dalam proses pembuatan Skripsi. Masalah dan Novelty penelitian merupakan suatu hal yang menjadi pertimbangan bagi dosen pembimbing dalam keputusan menerima atau menolak judul Skripsi kamu. Sekian dan Terima kasih

Kamis, 3 September 2026

Juan Carlos Pangestu, S.E., M.Ak

Akademisi, Peneliti dan  Konten Creator

“Batas Pemikiran adalah Keyakinan”

“KetidakTahuan adalah Akar Masalah”

Daftar Referensi

Artikel merupakan Hasil Penelitian, Hasil Review dan Penyaduran Informasi dari berbagai sumber. Penulis dan Asplace.id tidak dapat digugat maupun dituntut atas segala pernyataan, kekeliruan, ketidaktepatan atau kekurangan dalam setiap konten yang disampaikan. Apabila ada kesalahan, mohon informasikan ke redaksi dan maka akan dilakukan perbaikan.

PERNYATAAN PENYANGKALAN / DISCLAIMER 

Kebijakan Privasi (Privacy Policy)