Bagaimana Cara Menganalisis Keuntungan dalam Bisnis Perusahaan ? Yuk disimak Bagian Pertama (September 2026)

 


Ketika berbicara bagaimana menganalisis suatu bisnis, pernahkah anda melihat sebuah bisnis yang penjualannya tampak sangat ramai dan produknya selalu habis, tetapi di akhir bulan sang pemilik justru kebingungan karena kasnya kosong atau sedikit?. Fenomena seperti ini sering terjadi ketika manajemen hanya fokus pada omzet tanpa melakukan evaluasi dan analisis keuntungan pada bisnis yang dijalankan.

Di tengah persaingan bisnis modern yang serba cepat, volume penjualan yang besar hanyalah sebuah ilusi jika tidak dibarengi dengan efisiensi biaya dan pengelolaan modal yang baik lowh. Bisnis harus selalu dipantau dan dianalisis terutama dari keuntungannya. Analisis terhadap keuntungan membantu Anda melihat pos pengeluaran mana yang membengkak, apakah itu dari Harga Pokok Penjualan (HPP) atau biaya operasional seperti iklan dan gaji karyawan. Data hasil analisis keuntungan yang akurat menjadi fondasi saat manajemen perusahaan ingin menaikkan harga produk, memberikan diskon, melakukan ekspansi, atau mencari investor baru.

Analisis keuntungan dalam bisnis merupakan pilar krusial dalam manajemen keuangan yang berfungsi sebagai penunjuk arah strategis untuk mengukur kesehatan finansial dan efektivitas operasional suatu perusahaan. Melalui evaluasi mendalam terhadap berbagai rasio keuangan diantaranya seperti Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE) maupun rasio – rasio lainnya. Manajemen tidak hanya sekadar melihat angka perolehan laba di akhir periode, melainkan mampu membedah seberapa efisien setiap rupiah pendapatan, aset, dan modal yang tertanam dikonversi menjadi keuntungan bersih.

Berikut adalah beberapa rumus rasio yang dapat digunakan untuk menganalisis keuntungan dalam bisnis (Bagian pertama) :

Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin / GPM) adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efisiensi produksi atau persentase keuntungan yang dihasilkan dari penjualan, sebelum dikurangi biaya operasional (seperti gaji kantor, sewa, atau iklan) dan pajak. Rasio ini berfokus langsung pada Harga Pokok Penjualan (HPP) atau biaya modal produk. Semakin tinggi persentase GPM, semakin efisien perusahaan dalam memproduksi barang atau mengelola modal pasokan barangnya.

Untuk menghitung GPM, Anda harus mencari nilai Laba Kotor terlebih dahulu dengan mengurangi Total Pendapatan dengan HPP. 

Laba Kotor = Total Pendapatan - Harga Pokok Penjualan (HPP)

Gross Profit Margin = (Laba Kotor/Total Pendapatan) x 100%

Contoh kasus misalkan anda memiliki sebuah toko online baju olah raga. Total Pendapatan (Omzet) dimana dalam satu bulan, anda berhasil menjual pakaian dengan total nilai Rp100.000.000. Kemudian Harga Pokok Penjualan (HPP) berupa biaya untuk membeli kain, menjahit baju, dan kemasan produk tersebut totalnya adalah Rp80.000.000.

Laba Kotor = Rp 100.000.000 – Rp 80.000.000 = Rp 20.000.000

Gross Profit margin = (Rp 20.000.000/Rp 100.000.000) = 20%

Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Margin Laba Bersih (Net Profit Margin / NPM) adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur persentase laba bersih yang dihasilkan dari total pendapatan atau penjualan suatu perusahaan. Sederhananya, NPM menunjukkan berapa banyak uang bersih yang benar-benar tersisa di kantong perusahaan dari setiap rupiah penjualan, setelah semua biaya, beban operasional, bunga utang, dan pajak selesai dibayarkan.

Untuk menghitung NPM, Anda memerlukan dua data utama dari Laporan laba rugi yaitu Laba Bersih Setelah Pajak (Net Income) dan Total Pendapatan (Revenue/Sales).

NPM = (Laba Bersih Setelah Pajak / Total pendapatan) x 100%

Contoh kasus misalkan sebuah toko mencatat laporan keuangan bulanan sebagai berikut:

Total Penjualan (Omzet): Rp100.000.000

Harga Pokok Penjualan (HPP): Rp35.000.000

Biaya Operasional (Gaji, iklan, sewa gudang): Rp35.000.000

Pajak Bisnis: Rp5.000.000

Langkah 1: Hitung Laba Bersihnya Terlebih Dahulu

Laba Bersih = Total Penjualan − HPP − Biaya Operasional − Pajak

Laba Bersih = Rp100.000.000 – Rp35.000.000 − Rp35.000.000 − Rp5.000.000

Laba Bersih = Rp25.000.000

Langkah 2: Masukkan ke Rumus NPM

NPM = (Rp 25.000.000/Rp 100.000.000) x 100% = Rp 25 %

Pengembalian Investasi (Return on Investment / ROI)

Rasio yang digunakan untuk mengukur efisiensi atau profitabilitas dari suatu investasi. Rasio ini membandingkan keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang telah dikeluarkan. Secara umum, terdapat dua rumus utama yang sering digunakan untuk menghitung ROI, tergantung dari ketersediaan data keuangan Anda

1. Rumus ROI Standar (Berdasarkan Manfaat Bersih)

Rumus ini paling sering digunakan karena langsung menyelisihkan total pendapatan dengan biaya investasi.

ROI = ((Total Pendapatan Investasi – Biaya Investasi)/Biaya Investasi ) x 100 %

Contoh Kasus misalkan Anda mengeluarkan biaya Rp10.000.000 untuk modal iklan digital. Setelah kampanye selesai, total penjualan yang dihasilkan dari iklan tersebut adalah Rp15.000.000.

ROI = ((Rp 15.000.000 – Rp 10.000.000)/Rp10.000.000) x 100 %)

ROI = (Rp 5.000.000/Rp 10.000.000) x 100%

ROI = 50 %

2. Rumus ROI Berdasarkan Laba Bersih

Rumus ini digunakan jika Anda melakukan analisis langsung dari laporan keuangan perusahaan yang sudah mencantumkan angka laba bersih (setelah dikurangi beban dan pajak).

ROI = (Laba Bersih/Nilai Investasi) x 100%

Contoh Kasus misalkan Anda membeli mesin produksi seharga Rp50.000.000. Dari operasional mesin tersebut selama setahun, perusahaan mendapatkan tambahan laba bersih sebesar Rp12.500.000.

ROI = (Rp 12.500.000/Rp 50.000.000) x 100%

ROI = 25%

Cara Membaca Hasil Angka ROI

ROI Positif ( > 0% ) berarti Investasi Anda menghasilkan keuntungan. Semakin besar angkanya, semakin tinggi keuntungan yang didapat.

ROI Negatif ( < 0% ) berarti Investasi Anda mengalami kerugian atau boncos, karena total pendapatan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan.

Demikian bagian pertama artikel terkait Bagaimana  Cara Menganalisis Keuntungan dalam Bisnis Perusahaan?.  Pembahasan selanjutnya atau bagian kedua seperti menggunakan Margin Laba Operasional (Operating Profit Margin), Pengembalian Aset (Return on Assets / ROA), Pengembalian Ekuitas (Return on Equity / ROE) dan lainnya akan dibahas pada bagian kedua di artikel selanjutnya yah.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Rabu, 30 September 2026

Tim Redaksi Asplace.ID

Daftar Pustaka

Setiawan, T. (2021). Mahir akuntansi: Belajar cepat akuntansi biaya & akuntansi manajemen. Bhuana Ilmu Populer.

Setiawan, T. (2021). Mahir akuntansi biaya dan manajemen seri tangkas 100 soal. Bhuana Ilmu Populer.

Pangestu, J. C., Setiawan, T., & Kurniawan, S. (2023). Pengungkapan CSR, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Pengaruhnya Terhadap Profitabilitas Perusahaan Basic Materials BEI 2019-2021. Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen Dan Akuntansi (Jebma), 3(3), 771–778.

Pangestu, J. C., & Suhandi, G.F. (2025). Determinan Laba Pada Emiten-Emiten di Sektor Industri Kesehatan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk Periode 2019-2023 dengan Tingkat Hutang Sebagai Pemoderasi. Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 7(1), 341–354.

Posting Komentar

0 Komentar